Langkah Kedua Menuju Karangsari

Setiap perjalanan memiliki ciri khasnya. Itulah yang kurasakan. Aku sudah berkali-kali ke Jawa Tengah dan ini kedua kalinya aku berangkat menuju Pati. Berbeda dengan keberangkatanku yang sebelumnya, kali ini aku dengan empat temanku tiba di terminal lewat dari jadwal keberangkatan terakhir dari bus yang akan kami gunakan. Intuisiku mengatakan bus yang akan kami tumpangi belum tiba di terminal namun diriku yang lain tidak mau mengambil resiko untuk menunggu bus tersebut tiba. Selagi berpikir, kami berlima digiring oleh seseorang sambil terus ditekan untuk segera menaiki bus. Tentu saja aku dengan diriku yang lain berdebat keras karena harganya yang tidak sebanding dengan kenyamanannya namun keputusanku berakibat pada keempat temanku.

Akhirnya kuputuskan untuk menaiki bus tersebut. Tak lama kemudian, bus yang biasanya kugunakan tiba. Sontak aku menertawai diriku sendiri betapa bodohnya diriku beberapa saat yang lalu, kemudian aku meminta maaf kepada teman-temanku atas kesalahan yang telah kulakukan. Bukannya tak mengetahui jadwal keberangkatan bus namun warga Indonesia memiliki zona waktunya sendiri yang menyebabkan tinggal di Indonesia sangatlah menantang.

Kami berangkat menuju Semarang dari Terminal Caheum sekitar pukul 8 malam. Perjalanan dapat dikatakan cukup normal mengingat kami tiba di kota Semarang pukul 6 pagi keesokan harinya. Di Semarang, kami bertemu dengan Bhante Kha untuk mendiskusikan hal-hal yang kami butuhkan untuk DDB2016 terutama mengenai rancangan pembangunan Vihara Dwi, beliau dapat dikatakan menjadi salah satu kontributor pembangunan Vihara Dwi, Pati. Setelah bertanya ini itu, kami diberikan sarapan yang ‘seadanya’. Entah mengapa penduduk daerah Jawa Tengah sangat senang merendah. Kami berlima berangkat menuju desa tujuan DDB2016 yaitu Desa Karangsari untuk meninjau langsung di tempat. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Pak Par dengan baik hati mengantar kami dengan selamat sampai tujuan. Di Desa Karangsari, kami disambut oleh Pak Ki (kakak dari Pak Par sekaligus kepala Vihara Dwi) beserta keluarga beliau. Waktu menunjukkan pukul 12 saat kami tiba seingatku dan langsung saja tanpa berlama basa-basi kami disambut oleh makan siang yang ‘seadanya’.

Memang hidup ini tak dapat ditebak, setelah kami berlima makan dengan lahap, kami diberi tahu bahwa ada kebaktian rutin ibu-ibu MBI pada GSG Dwi setiap hari Rabu dan kebaktian rutin ibu-ibu STI pada Vihara Dhammasanti setiap hari Kamis. Jujur saja, saya merasa cukup beruntung dalam memilih waktu survey.

Kesempatan untuk berkenalan dengan ibu-ibu di Desa Karangsari tidak kami lewatkan tentunya. Setelah makan siang, kami diantar Pak Par menuju GSG Dwi. Kebaktian Budhayana di sini terasa sedikit berbeda dengan yang kuketahui, mungkin dikarenakan perbedaan kebudayaan dan pemimpin puja bakti berbicara dengan bahasa Indonesia yang baku. Setelah melakukan puja bakti, G mewakili pihak kami untuk memperkenalkan apa itu DDB2016 dan apa yang akan kami lakukan Mei 2016 mendatang serta memberitahu tujuan dan maksud kami mengunjungi pada saat itu. Sayangnya, G berbicara dengan cukup cepat (menurut ibu-ibu di sana) sehingga Ibu Sus menjelaskan kembali perkataan yang diucapkan G dengan perlahan dan dengan sedikit tambahan bahasa Jawa. Sambil mendengarkan penjelasan, aku berdiskusi dengan K untuk membahas rundown kasar DDB2016. Saat itu diputuskan untuk mengadakan DDB2016 pada tanggal 26-30 Mei 2016 dengan pertimbangan bahwa 22 Mei 2016 akan ada perayaan Waisak Nasional.

Selesai kebaktian, kami melihat-lihat kondisi Vihara Dwi yang letaknya cukup berdekatan (dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 1 menit). Tadinya kami berencana untuk melakukan pemetaan setelah melihat-lihat progres pembangunan, namun apa daya nafsu mengungguli logika di saat itu. Kami beristirahat di rumah Mbah Sum, tepat di sebelah tanah vihara sambil menyantap makanan ringan dan durian.

Setelah mereka menghabiskan durian, kami kembali ke rumah orangtua Pak Ki. Rupanya, makan malam sudah menunggu kami. Selepas makan malam, kami diberi waktu untuk istirahat hingga pukul 8 malam karena pukul 8 malam, akan ada pertemuan dengan panitia pembangunan Vihara Dwi Dharma Loka. Tak membiarkan waktu istirahat dengan sia-sia, R dan G terlelap dengan begitu cepat, secepat kijang berlari. Aku sendiri menghabiskan waktuku dengan membaca novel.

Pukul delapan lewat, kami berkumpul dengan panitia pembangunan Vihara Dwi Dharma Loka untuk membahas teknis penyaluran dana serta penghubung dengan kepanitiaan kami. Pembicaraan berlangsung dengan cukup lancar meskipun sempat terjadi sedikit kesalahpahaman tapi hal tersebut langsung kami luruskan. Setelah berbincang-bincang, kami beristirahat untuk mempersiapkan diri untuk melakukan pemetaan yang tertunda.

Pukul 6 pagi, aku sudah terjaga namun W, G dan R masih terlelap dalam mimpinya. Sekitar jam 8 kami baru memulai kegiatan sarapan. Selepas sarapan, kami memulai pemetaan untuk menentukan beberapa hal seperti tempat pemarkiran bus, jarak dari Vihara Dwi ke jalan besar, lebar dan kondisi jalan.

Pukul 11 pagi, kami mengunjungi Rumah Mbah W perihal anak Sekolah Minggu Buddhis. Di sana, kami diberi kudapan serta makan siang dan tentunya data anak-anak Buddhis yang berada di daerah Pati. Sesudah berbincang-bincang di rumah Mbah W, kami terbagi menjadi 2 kelompok. Saya dengan K mengikuti kebaktian di Vihara Dhammasanti untuk menginformasikan DDB2016 dan meminta kerjasama ibu-ibu yang hadir di sana. Pada saat yang sama, G, R dan W pergi mengunjungi vihara yang berada di Bleber dan menanyakan beberapa hal kepada pengurus vihara tersebut. Selepas kebaktian, kami pulang ke rumah orang tua Pak Ki sedangkan mereka yang pergi ke Bleber melalui jalan besar sekaligus mengetahui posisi pasar.

Setelah melalui hari yang cukup padat, kami diantar oleh Pak Ki dan Pak Par menuju terminal di kota Pati. Kepulangan kami menuju Bandung menghabiskan waktu sekitar 14 jam dengan banyak perhentian saat perjalanan. Selama 4 jam pertama, orang yang duduk sebangku denganku mengajakku berbicara. Tak banyak kata yang dapat kulontarkan kepadanya namun menurutku jarang menemukan orang seperti itu, orang yang berani mengajak orang yang tak dikenal untuk berbincang-bincang. Menurutku, ia juga orang yang baik sebab ia rela meninggalkan tempat duduknya untuk orang lain padahal dia juga membeli tiket dengan harga yang sama. 10 jam yang tersisa di perjalanan kuhabiskan dengan tertidur dan terbangun karena interferensi dari bayi dan kemudian tertidur kembali dan hal tersebut berulang terus menerus. Pukul 7 pagi kami tiba di Bandung dan itu menandakan akhir dari perjalanan survey kami.

Bandung, 5 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s