I’m Tzu Ching for The Last Time

31 Agustus 2017, aku menginjakkan kaki lagi di sebuah bangunan megah dengan atap bertingkat di bagian atasnya. Tiang-tiang luarnya yang diselimuti dengan batu-batu kecil terlihat tidak berubah sejak terakhir kali aku datang. Tiba di saat matahari sudah turun, bukan berarti kegiatan persiapannya ikut meredup pula. Kulihat hilir mudik panitia memastikan segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar. Teman-teman luar kota dan luar pulau pun mulai berdatangan mengisi ruangan demi ruangan untuk mempersiapkan diri mengikuti pelatihan (camp) keesokan harinya.

1 September 2017, kukenakan seragam biru muda sebagai tanda peserta untuk mengikuti pelatihan relawan mahasiswa Tzu Chi Indonesia (biasa disebut Tzu Ching). Sembari menunggu dimulainya camp pada tahun ini, dengan canggung aku berkenalan dengan teman-teman Jakarta yang baru datang dan tentunya teman-teman sekelompok. Tzu Ching Camp 2017 ini bertajuk I’m Tzu Ching yang akan diadakan selama 3 hari dan 2 malam.

Acara pada hari pertama diisi dengan bagaimana bersikap sebagai insan Tzu Ching. Di pagi hari, kami diingatkan kembali dengan 10 sila Tzu Chi dan pada saat itu ditekankan bahwa sila dipatuhi bukan untuk membatasi diri sendiri namun untuk melindungi kebebasan diri sendiri dan menghormati kebebasan orang lain. Setelah materi 10 sila Tzu Chi, kami dibagi ke dalam kelompok untuk mempresentasikan bagaimana seharusnya insan Tzu Chi bertata krama, mulai dari berpenampilan, duduk, berjalan, makan hingga tidur. Mungkin terlihat amat kaku namun sekali lagi, tata krama di Tzu Chi diajarkan untuk menghormati diri sendiri serta orang lain. Di sela-sela materi, kami juga diajarkan mengenai hymne ajaran jing si (勤行颂 atau song of diligence) dan inilah salah satu hal yang menarik di Tzu Chi, ada nilai-nilai luhur Tzu Chi yang diajarkan melalui lagu dan isyarat tangan sehingga lebih mudah dipahami dan diserap.

Hari kedua diisi dengan materi 4 misi utama yang terdiri dari misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya kemanusiaan. Dengan berbagai metode, materi-materi tersebut disampaikan, games, sharing pengalaman pribadi dan melalui praktik langsung.

Hari penutup diisi dengan pengalaman personal dari beberapa insan Tzu Ching yang telah ‘naik kelas’ ke abu putih logo. Dengan naik kelas, bukan berarti para alumni tidak terlibat lagi namun mendapat tanggung jawab yang lebih besar di Tzu Chi. Banyak yang masih membantu Tzu Ching dan bahkan seluruh lini panitia Tzu Ching Camp 2017 kali ini diisi oleh alumni Tzu Ching.

3 September 2017, seragam biru yang kukenakan akhirnya kulepas dan kuganti dengan pakaian sehari-hariku. Saat itu aku bertekad untuk mengemban tanggung jawab lebih. Ya, tanggung jawab lebih. Sebagai mahasiswa kerap kali kami diperhatikan oleh ayah dan ibu Tzu Chi kami, dan dapat dikatakan perhatian yang kami dapat yang selama ini merupakan salah satu alasan kami betah di Tzu Chi. Sudah lebih dari 4 tahun aku bergabung dengan Tzu Chi dan banyak hal aku pelajari selama ini. Kini saatnya aku mulai belajar bagaimana menurunkan hal-hal yang sudah kupelajari dan kupahami selama ini.

NB: Kilas Balik Tzu Ching Camp Kepengurusan 2017

Advertisements

Sepenggal pengalaman di Pati

24 Mei 2016, Julivius bersama 6 teman lainnya mendapatkan kesempatan untuk berbaur dengan warga desa Karangsari terlebih dahulu. Mereka bertugas untuk mempersiapkan kedatangan 47 mahasiswa Buddhis lainnya.

Selama 2 hari, mereka mengunjungi warga-warga desa untuk menyebarkan informasi serta menyesuaikan rencana yang telah dibuat sebelumnya dengan kondisi desa Karangsari. Singkat cerita, acara live-in DDB 2016 yang dimulai pada tanggal 26 Mei 2016 dan berakhir pada tanggal 30 Mei 2016 berjalan dengan cukup baik.

Kunjungan yang dilakukan oleh 53 mahasiswa yang tergabung dalam KMB ITB bermaksud untuk memberikan inspirasi serta harapan bagi warga desa untuk tetap berjalan dalam Dhamma. Namun kenyataan berkata lain, ketimbang menginspirasi warga desa, saya sendiri lebih merasa terinspirasi oleh warga desa.

Awalnya tindakan mereka cukup sulit untuk dipahami. Makanan yang cukup banyak malah dikatakan apa adanya. Makanan ringan selalu tersedia. Kehidupan pedesaan yang dikatakan banyak kekurangan walaupun kenyataannya lebih banyak dari yang dimiliki oleh kehidupan rata-rata mahasiswa.

Akan tetapi hal yang mereka lakukan sebenarnya sangatlah wajar mengingat waktu peserta tinggal hanyalah 5 hari. Tentunya tidak banyak dari warga desa yang kerap menerima orang yang belum dikenal untuk menginap di rumah mereka. Kesediaan mereka untuk menyediakan tempat tinggal dan bahkan meminjamkan kendaraan untuk peserta sudah menjadi salah satu bukti kerendahan hati serta kesederhanaan warga desa Karangsari.

Hidup di desa Karangsari juga mengajarkan bahwa tersedianya banyak hiburan seperti di kota tidak menjamin hidup yang bahagia. Hidup di desa Karangsari mengajarkan bagaimana hidup damai serta hidup bersyukur. Hidup di desa Karangsari juga mengajarkan bahwa apa yang kita pikir kita butuhkan belum tentu benar-benar kita butuhkan.

Bersamaan dengan ini, saya ingin berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu DDB 2016 khususnya warga desa Karangsari yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berbuat baik serta kesediannya untuk menerima kunjungan peserta DDB 2016.

Langkah Kedua Menuju Karangsari

Setiap perjalanan memiliki ciri khasnya. Itulah yang kurasakan. Aku sudah berkali-kali ke Jawa Tengah dan ini kedua kalinya aku berangkat menuju Pati. Berbeda dengan keberangkatanku yang sebelumnya, kali ini aku dengan empat temanku tiba di terminal lewat dari jadwal keberangkatan terakhir dari bus yang akan kami gunakan. Intuisiku mengatakan bus yang akan kami tumpangi belum tiba di terminal namun diriku yang lain tidak mau mengambil resiko untuk menunggu bus tersebut tiba. Selagi berpikir, kami berlima digiring oleh seseorang sambil terus ditekan untuk segera menaiki bus. Tentu saja aku dengan diriku yang lain berdebat keras karena harganya yang tidak sebanding dengan kenyamanannya namun keputusanku berakibat pada keempat temanku. Continue reading “Langkah Kedua Menuju Karangsari”

Perjalananku masih tetap berlanjut

Sekitar 2 tahun yang lalu, aku menghadiri Tzu Ching Camp dengan baju putih dan rompi relawan. Saat itu, aku baru saja mengenal apa itu Tzu Chi, siapa itu Master Cheng Yen dan kegiatan apa saja yang telah dilakukan oleh Tzu Chi Indonesia. Tak terpikir bagiku untuk aktif di Tzu Ching, sebuah komunitas mahasiswa yang bernaung di bawah Tzu Chi.

Beberapa bulan yang lalu, aku kembali ke Jing Si PIK bersama teman-temanku untuk mengikuti Tzu Ching Camp umum yang kedua. Tak disangka pada camp umum kedua kalinya,  5 Tzu Ching serta 16 calon Tzu Ching menjadi simbol kontribusi Tzu Ching Bandung. Aku merupakan salah satu dari 5 orang yang berbaju biru muda yang turut membantu panitia-panitia yang telah lama mempersiapkan acara Tzu Ching Camp ini.

2 tahun yang lalu, aku hadir sebagai salah satu anak termuda yang mengikuti camp tersebut. Beberapa hari yang lalu, aku hadir sebagai salah satu figur contoh bagi peserta acara.

2 tahun yang lalu, aku menghadiri Tzu Ching Camp umum sebagai peserta yang tidak tahu apa-apa dan siap menerima segala informasi yang akan diberikan lewat serangkaian acara yang telah disiapkan dengan susah payah oleh panitia. Beberapa bulan yang lalu, aku menghadiri Tzu Ching Camp umum kedua sebagai panitia yang turut berpartisipasi memberi informasi lewat serangkaian acara yang telah disiapkan dengan susah payah. Aku menyadari adanya kesamaan dari 2 kali camp yang telah diadakan meskipun peranan yang dijalankan telah berbeda. Hal tersebut adalah pembelajaran. Jikalau aku dulu belajar bagaimana caranya mengangkut beras, sekarang aku belajar bagaimana caranya mengajarkan orang lain untuk belajar mengangkut beras.

Tidak banyak hal yang kubantu saat aku berada di sana, aku hanya membantu memindahkan galon air, menyediakan tempat tidur bagi para peserta,  memindahkan barang-barang yang dibawa oleh peserta ke ruang tidur mereka masing-masing, dan merubah suasana ruangan (aku tidak tahu bagaimana menyampaikan kegiatan terakhirku ini.) Meskipun tidak banyak hal yang kulakukan, namun teramat banyak hal yang kupelajari saat aku bekerja bersama tim lokoport (logistik, akomodasi, dan transportasi) termasuk saat menunggu perintah yang akan diberikan oleh PIC (Person In Charge) lokoport. Inisiatif, ramah dan rendah hati hanya sebagian kecil nilai yang saya pelajari bersama tim.