Sepenggal pengalaman di Pati

24 Mei 2016, Julivius bersama 6 teman lainnya mendapatkan kesempatan untuk berbaur dengan warga desa Karangsari terlebih dahulu. Mereka bertugas untuk mempersiapkan kedatangan 47 mahasiswa Buddhis lainnya.

Selama 2 hari, mereka mengunjungi warga-warga desa untuk menyebarkan informasi serta menyesuaikan rencana yang telah dibuat sebelumnya dengan kondisi desa Karangsari. Singkat cerita, acara live-in DDB 2016 yang dimulai pada tanggal 26 Mei 2016 dan berakhir pada tanggal 30 Mei 2016 berjalan dengan cukup baik.

Kunjungan yang dilakukan oleh 53 mahasiswa yang tergabung dalam KMB ITB bermaksud untuk memberikan inspirasi serta harapan bagi warga desa untuk tetap berjalan dalam Dhamma. Namun kenyataan berkata lain, ketimbang menginspirasi warga desa, saya sendiri lebih merasa terinspirasi oleh warga desa.

Awalnya tindakan mereka cukup sulit untuk dipahami. Makanan yang cukup banyak malah dikatakan apa adanya. Makanan ringan selalu tersedia. Kehidupan pedesaan yang dikatakan banyak kekurangan walaupun kenyataannya lebih banyak dari yang dimiliki oleh kehidupan rata-rata mahasiswa.

Akan tetapi hal yang mereka lakukan sebenarnya sangatlah wajar mengingat waktu peserta tinggal hanyalah 5 hari. Tentunya tidak banyak dari warga desa yang kerap menerima orang yang belum dikenal untuk menginap di rumah mereka. Kesediaan mereka untuk menyediakan tempat tinggal dan bahkan meminjamkan kendaraan untuk peserta sudah menjadi salah satu bukti kerendahan hati serta kesederhanaan warga desa Karangsari.

Hidup di desa Karangsari juga mengajarkan bahwa tersedianya banyak hiburan seperti di kota tidak menjamin hidup yang bahagia. Hidup di desa Karangsari mengajarkan bagaimana hidup damai serta hidup bersyukur. Hidup di desa Karangsari juga mengajarkan bahwa apa yang kita pikir kita butuhkan belum tentu benar-benar kita butuhkan.

Bersamaan dengan ini, saya ingin berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu DDB 2016 khususnya warga desa Karangsari yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berbuat baik serta kesediannya untuk menerima kunjungan peserta DDB 2016.

Langkah Kedua Menuju Karangsari

Setiap perjalanan memiliki ciri khasnya. Itulah yang kurasakan. Aku sudah berkali-kali ke Jawa Tengah dan ini kedua kalinya aku berangkat menuju Pati. Berbeda dengan keberangkatanku yang sebelumnya, kali ini aku dengan empat temanku tiba di terminal lewat dari jadwal keberangkatan terakhir dari bus yang akan kami gunakan. Intuisiku mengatakan bus yang akan kami tumpangi belum tiba di terminal namun diriku yang lain tidak mau mengambil resiko untuk menunggu bus tersebut tiba. Selagi berpikir, kami berlima digiring oleh seseorang sambil terus ditekan untuk segera menaiki bus. Tentu saja aku dengan diriku yang lain berdebat keras karena harganya yang tidak sebanding dengan kenyamanannya namun keputusanku berakibat pada keempat temanku. Continue reading “Langkah Kedua Menuju Karangsari”

Perjalananku masih tetap berlanjut

Sekitar 2 tahun yang lalu, aku menghadiri Tzu Ching Camp dengan baju putih dan rompi relawan. Saat itu, aku baru saja mengenal apa itu Tzu Chi, siapa itu Master Cheng Yen dan kegiatan apa saja yang telah dilakukan oleh Tzu Chi Indonesia. Tak terpikir bagiku untuk aktif di Tzu Ching, sebuah komunitas mahasiswa yang bernaung di bawah Tzu Chi.

Beberapa bulan yang lalu, aku kembali ke Jing Si PIK bersama teman-temanku untuk mengikuti Tzu Ching Camp umum yang kedua. Tak disangka pada camp umum kedua kalinya,  5 Tzu Ching serta 16 calon Tzu Ching menjadi simbol kontribusi Tzu Ching Bandung. Aku merupakan salah satu dari 5 orang yang berbaju biru muda yang turut membantu panitia-panitia yang telah lama mempersiapkan acara Tzu Ching Camp ini.

2 tahun yang lalu, aku hadir sebagai salah satu anak termuda yang mengikuti camp tersebut. Beberapa hari yang lalu, aku hadir sebagai salah satu figur contoh bagi peserta acara.

2 tahun yang lalu, aku menghadiri Tzu Ching Camp umum sebagai peserta yang tidak tahu apa-apa dan siap menerima segala informasi yang akan diberikan lewat serangkaian acara yang telah disiapkan dengan susah payah oleh panitia. Beberapa bulan yang lalu, aku menghadiri Tzu Ching Camp umum kedua sebagai panitia yang turut berpartisipasi memberi informasi lewat serangkaian acara yang telah disiapkan dengan susah payah. Aku menyadari adanya kesamaan dari 2 kali camp yang telah diadakan meskipun peranan yang dijalankan telah berbeda. Hal tersebut adalah pembelajaran. Jikalau aku dulu belajar bagaimana caranya mengangkut beras, sekarang aku belajar bagaimana caranya mengajarkan orang lain untuk belajar mengangkut beras.

Tidak banyak hal yang kubantu saat aku berada di sana, aku hanya membantu memindahkan galon air, menyediakan tempat tidur bagi para peserta,  memindahkan barang-barang yang dibawa oleh peserta ke ruang tidur mereka masing-masing, dan merubah suasana ruangan (aku tidak tahu bagaimana menyampaikan kegiatan terakhirku ini.) Meskipun tidak banyak hal yang kulakukan, namun teramat banyak hal yang kupelajari saat aku bekerja bersama tim lokoport (logistik, akomodasi, dan transportasi) termasuk saat menunggu perintah yang akan diberikan oleh PIC (Person In Charge) lokoport. Inisiatif, ramah dan rendah hati hanya sebagian kecil nilai yang saya pelajari bersama tim.